Aku memulai hariku sama seperti manusia pada umumnya..
Saat membuka mata..
Saat aku terbangun dari singgasana yang telah membuatku terlelap..
Energi pertamaku sama seperti manusia pada umumnya..
Dari saripati makanan yang aku telan setiap hari...
Hidupku...sama seperti hidup yang kalian jalani..
Sama-sama menghirup udara yang ada di bumi
sama-sama memakan beras yang berasal dari tanah
sama-sama meminum air yang mengalir dari puncak
sama-sama merasa terbakar dengan bola api terbesar yang disebut Matahari
Tapi Kali ini aku membaginya dengan versiku sendiri
Sesuai dengan apa yang pernah aku alami
selama aku masih menjadi manusia yang wajar seutuhnya
Kehidupan yang menurutku sangat bahagia
ketika aku hidup diKota yang memiliki Jembatan seperti ini
memiliki makanan khas seperti Soto ini
memiliki salah satu sekolah seperti ini
kota yang banyak memberikanku kesenangan serta kasihsayang yang berlimpah
dari orang tua
Saudara dan teman-teman
Classmate yang terbaik yang pernah ada
Mempunyai partner yang sangat peduli satu sama lain
Rasanya tidak akan cukup menggambarkan betapa menggembirakannya
memiliki mereka
yang slalu mengisi hari-hariku
dan melukiskan berbagai macam tawa
hingga sebuah ide dan hasrat gila ingin menantang kehidupan
menentukan langkahku selanjutnya
dimana aku harus menitipkan mereka semua pada kota yang mereka sebut
Seribu Sungai itu
Dan bagiku adalah Kota
Seribu Nafas
Aku terpental jauh ke sebuah kota yang belum pernah aku ketahui
Yang belum pernah aku hinggapi
yang belum pernah berarti apapun bagiku..
Ya..
disini
dikota yang menurut peta berada di Bagian Timur Pulau Jawa
Dari kota yang telah membesarkanku
Aku kebingungan..
hilang penopang yang slama ini mengerumuniku
Hilang orang-orang yang menyayangiku apa adanya
Tapi..
Aku harus berjuang
Langkahku sudah berada di kota ini
Aku tak boleh menyerah
walau untuk berjalan dikota ini harus dengan berliter-liter airmata
Harus dengan hati yang tersayat-sayat pilu
Walau harus tanpa ada orang-orang yang menyayangiku
Walau harus tanpa ada orang yang bisa disebut sahabat
Aku akan mencoba bertahan...
Walau harus menjadi daun kering kembali
yang tiada arti
Aku akan tetap bertahan
Karena aku yakin
Tuhanku tidak akan membiarkan hambanya bersedih
Karena aku tau
Inilah saatnya aku belajar dewasa dan lebih dekat dengan Tuhanku
Walaupun rasanya harus terseret-seret
tertatih-tatih
Terkucilkan
terasingkan
tak berdaya
dan
Mati Rasa
Aku akan mencoba bertahan
Demi semua yang telah mereka impikan diatas pundakku
Yang mereka harapkan diatas kakiku
Aku akan mencoba tersenyum dan bersyukur
Atas semua yang telah terjadi dalam diriku
tanpa ragu sedikitpun














Tidak ada komentar:
Posting Komentar